DATA WILAYAH KELOLA
No. Tanggal Input Nama Wilayah Kelola Profil Jenis Wilayah Kelola Tahapan  
711 14-08-2019 Komunitas Adat Tondon
Sulawesi Selatan 
Kab. Enrekang 
Asal usul tondon bahwa beberapa orang disuruh oleh penguasa enrekang naik ke tondon, mereka dibekali uang Mesa’ balasse (Modal), pertama mereka tinggal disuatu tempat namanya dulung kemudian pindah ke buttu Tedong, kemudian pindah ke donga-donga kemudian pindah lagi ke sirattean, terus pindah lagi ke suatu tempat namanya bamba disitulah mulai banyak danmereka sudah berpenghasilan bercocok tanam, beternak dls. Mereka sudah bisa dikatakan suatu masyarakat yang berskala kampung disana terdapat suatu tempat yang tinggi dan rata dan cukup luas, jalan untuk naikhanya ada 2 yaitu (dua tangga/enda) dan yang bisa naik adalah orang yang bersih (mapaccing atena) tempat itulah dinamakan buntu batu yang disebut dengan Tondon setelah mereka mampu membentuk struktur kepemimpinannya/kelembagaannya adatnya maka terbentuk pulalah suatu komunitas yaitu Komunitas Masyarakat Adat Tondon. Struktur lembaga adat Komunitas Tondon terdiri dari : Tomakaka Ada’ (Tomatua) Kapala yaitu Bagian Pemerintahan Paso’ Tomassituru Wilayah adat Tondon ini berada di dataran tinggi sulawesi selatan dan kaya akan sumber daya alam, seperti kopi, cengkeh, merica, durian. Jarak dari ibu kota kabupaten kurang lebih Hutan Adat Usulan
712 13-08-2019 Komunitas Adat Kallupini
Sulawesi Selatan 
Kab. Enrekang 
Masyarakat adat kalupini sudah ada sejak dahulu kala, Yang paling tua di pali (anak sulung) Yg kedua di ranga Yg endekang (anak bungsu) Kalupini ; asal/mula Sejak zaman megalitik, transformasi adat Kaluppini mengacu pada konsep Mitologi yang kuat dan diyakini masyarakatnya yakni sejarah dan ritual adat megandung nilai-nilai luhur untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta, bentuk kecintaan, keikhlasan dan kesucian. Hal ini juga diartikan sebagai cara penyampaian permohonan kepada Pencipta Alam Semesta sekaligus sebagai upaya menjaga hubungan yang harmonis terhadap sesama manusia. Akar mitologi tersebut tergambarkan dalam salah satu ritual adat di Kaluppini yang dikenal dengan Ritual Adat Pangewaran, ritual yang dilaksanakan sekali dalam Delapan tahun. Di Limbuang, Pasang, Ranga, Tondon dan Matakali adalah daerah yang juga melaksanakan ritual adat serupa di Kabupaten Enrekang, namun pemaknaan dari perayaan ritual adat tersebut berbeda-beda. Melacak sejarah Kaluppini bisa dengan cara memahami ritual Pangewaran, yang merupakan tradisi yang telah diturunkan dari generasi ke generasi di Komunitas Adat Kaluppini. Ritual Pangewaran ini dilatarbelakangi oleh sebuah kisah dimana masa itu bumi Kaluppini mencapai puncak kesejahteraan. Sejauh mata memandang akan terlihat area persawahan. Padi menguning siap untuk dipanen,ladang dipenuhi tanaman-tanaman yang tumbuh subur. Ternak Sapi, Kambing dan Kerbau berkembang dengan baik. Penghidupan yang begitu menjanjikan dan membahagiakan. Masa itu para petani dimanja dengan satu kali menanam bisa memanen tanamannya sampai tujuh kali,setiap kali dipanen akan tumbuh lagi pucuk-pucuk yang baru dan siap dipanen musim berikutnya. Kebutuhan sandang,pangan dan papan sangatlah melimpah,canda tawakegembiraan penduduk senantiasa mewarnai kehidupan Kaluppini kala itu. Sungguh besar nikmat dan karunia yang telah Tuhanturunkan untuk masyarakat Kaluppini. Tahun demi tahun penduduk Kaluppini terus dimanja dengan melimpahnya hasil bumi, kebutuhan hidup terpenuhi bahkan lebih. Nikmat tersebut membuat penduduk terlena, praktek hidup sederhana berubah menjadi boros,mengumpulkan harta dan membangga-banggakannya. Masyarakat Kaluppini melupakan kenikmatan itu datangnya dari Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang,hukum adat dan ritual adat mulai ditinggalkan. Di Desa Lembang, di sebuah tempat bernama Pa’ragaan, sebuah tempat yang sering dijadikan arena untuk bermain Raga (Sepak Takraw), yang dijadikan bola untuk bermain bukan lagi bola yang terbuat dari anyaman Rotan namun dari makanan Sokko’ (Beras ketan) yang bulatkan menyerupai bola kemudian ditendang ke sana kemari sedemikian rupa. Pergeseran drastis pola hidup penduduk Kaluppini juga terlihat saat Petani-petani yang mengusir burung pengganggu tanaman di ladang dan sawah. Mereka tidak lagi menggunakan orang-orangan sawah namun memakai Sokko’ yang dikepal-kepal kemudian dilemparkan ke arah kawanan burung untuk mengusirnya. Karena lupa diri, akhirnya Sang Pencipta menurunkan azab, bumi Kaluppini dan kawasan yang jauh diluar Kaluppini mengalami sebuah penderitaan yang sama. Bumi yang dahulunya hijau nan subur,berubah menjadi tanah kering kerontang akibat bertahun-tahun tidak diturunkan hujan,ternak mati,tanam-tanaman mati,paceklik berkepanjangan. Catatan sejarah yang dimuat dalam berbagai sumber baik tertulis maupun lisan menggambarkan masa itu dengan kutipan: “Matti manangngi wai’E ritangngana linoe, Mate manangngi bulu-bulunna tana’E ritangngana linoe.”(Artinya: Semua sumber air di muka bumi mengering, Semua rerumputan/tanaman di muka bumi mati). Sepenggal kalimat ini menggambarkan kehidupan dimasa itu yang hampir punah. Rerumputan mengering dan mati seiring dengan mengeringnya semua sumber-sumber air. Dipuncak bencana, orang yang masih bertahan hidup menyadari kekhilafan yang telah mereka lakukan selama ini,ratapan penyesalan sedalam-dalamnya tak terhindarkan setelah menyadari hilangnya nikmat Tuhan yang mereka balas dengan kesombongan. Dari sinilah ritual Pangewaran ini bermula, sekaligus menjadi babak baru bagi sejarah Kaluppini Hutan Adat Usulan
713 13-08-2019 Liya
Sulawesi Tenggara 
Kab. Wakatobi 
Kadie Liya merupakan wilayah kekuasaan yang secara langsung berada di bawah kekuasaan pemerintah pusat (Kesultanan Buton). Struktur pemerintahan Kadie Liya terdiri dari 120 orang yang dipimpin oleh seorang Meantu’u (La Kina) yang disebut Sara dengan fungsi masing-masing.. Wilayah kekuasaan Kadie Liya meliputi ± 1/3 pulau Wangi-Wangi. Beberapa kawasan seperti Kolo, Pulau Sumanga, Pulau Oroho, Pulau Simpora, dan Lagiampa sejak dulu berada dalam penguasaan Kadie Liya. Hutan Adat Usulan
714 13-08-2019 Komunitas Adat Pasang sa' pasang
Sulawesi Selatan 
Kab. Enrekang 
Keberadaan masyarakat adat Pasang Sa’ Pasang sudah ada sejak dahulu kala. Beragam situs-situs adat bersejarah masih banyak ditemukan dan terjaga dengan baik. Sebuah upacara adat yang disebut Maccera Manurung kini masih secara rutin dilakukan oleh masyarakat melalui sebuah perayaan yang besar. Maccera manurung ini sendiri diperingati sebagai momen untuk mengenang kembali semua “Pappasan” yang dibawa oleh Puang Manurung, asal To Manurun La Tau Pakka yang memberikan pesan pesan moral kepada seorang pewarisnya bernama Pu Paitung di atas gunung yg terkenal dengan nama Buttu Pasang. sang pembawa pesan leluhur pertama, yang berisi beragam petuah atau pesan bagaimana manusia sebagai makkluk termulia, berinteraksi terhadap sesama manusia dan berinteraksi terhadap alam lingkungan, baik hewan dan tumbuhan, yang dikenal dengan istilah “tallu lolo”. Karena inilah yang membutuhkan pengaturan perkembangan dan pertumbuhannya (kabakkaran). Kehadiran Puang Manurung di Buttu Pasang untuk menyampaikan “Pappasan” meletakkan dasar dan menjadi acuan penyelenggaraan kehidupan yang teratur dan bijaksana. Ini adalah sebuah bentuk peradaban manusia mulai hidup dalam keteraturan yang beradab dalam lingkaran komunitas adat Pasang Sa’ Pasang. Dengan Pappasan ini pula yang dimaknai oleh generasi selanjutnya yang menjadi dasar dan alasan kampung ini diberi nama “Pasang Sa’ Pasang” yang sekarang ini menjadi Desa Pasang, salah satu nama desa di komunitas adat ini. Sebaran komunitas adat Pasang Sa’ Pasang ini mencakup dua wilayah desa secara administratif yakni Desa Pasang dan Palakka. Kendati tersebar dalam tiga wilayah desa secara administratif akan tetapi identitas adat Pasang Sa’ Pasang masih bisa ditandai dengan kesamaan ritual yang dilkukan oleh masyarakat di tiga desa tersebut. Hal ini diperkuat dengan penuturan masyarakat dalam ketiga desa mengenai asal usul hubungan leluhur ataupun ritual-ritual yang mereka adakan. Untuk memahami persebaran Masyarakat adat Pasang Sa’ Pasang maka perlu mengurai satu persatu wilayah tersebut berdasarkan desa dimana mereka bermukim. Apa itu Pasang Sa’ Pasang? Hamparan bumi di atas jagad raya yang dihuni oleh rumpun ikatan keluarga yang mula adanya pemimpin, pemuka dan sebagainya yang sering dianggap sebagai perangkat pangadaran berawal dari ajaran mulia To Manurung La Tau Pakka. Begitu kecintaan terhadap kampung halaman sehingga perinsip orang Pasang Sa’ Pasang di manapun ia berada tetap berpegang teguh dengan Istilah “ Tanah buku buku di Pasang tanah dikabusungngi “ Kenapa bernama Pasang Sa’ Pasang? merujuk kepada asal To Manurun La Tau Pakka yang memberikan pesan pesan moral kepada seorang pewarisnya bernama Pu Paitung di atas gunung yg terkenal dengan nama Buttu Pasang Hutan Adat Usulan
715 13-08-2019 Hukaea laea
Sulawesi Tenggara 
Kab. Bombana 
Tobu (kampung) hukaea-laea adalah suatu perkampungan tua orang moronene yang saat ini dihuni oleh keturunan langasung dari generasi orang moronene 1920. Berdasrkan data berupa peta belanda maupun cerita kesaksian orang moronene, tobu hukaea-laea dulunya merupakan perwakilan distrik rumbia yang dipimpin oleh seorang mokole(kepala distrik) yakni almarhum lababa. Bagi orang moronene, tobu hukaea-laea , lampopala dan sekitarnya merupakan waworaha, yakni kawasan yang pernah dihuni leluhur atau nenek moyang dan ditinggalkankarena alasan-alasan tertentu, misalnya wabah penyakit, kematian, gagal panen atau bencana alam yang menimpah hidup mereka. Walaupun ditinggal oleh sebab-sebab tertentu hubungan waworaha dengan orang moronene tidak pernah putus karena waworaha tersebut tetap dikunjungi baik untuk mengambil hasil sumber daya alam maupun berziarah kubur, sebab waworah adalah tanah leluhur yang akan tetap didatangi kembali dan dijadikan lokasi pemukiman dan usaha. Tentang riwayat tobu orang moronene di hulu sungai laea, jauh sebelum terbentuknya tobu hukaea beberapa keluarga moronene bermukim dan berladang disekitar sungai pambaea dan roromponda (kemudian bernama lampopala) yang sekarang di klaim sebagai wilayah TNRAW. Akibat dari ganggauan nyamuk, masayrakat atas persetujuan pemerintah distrik rumbia, berpindah dan membangun perkampungan dilokasi baru yang bernama wukulanu Selain berpindah ke hulu sungai laea, selainnya lagi berpindah kedaerah bawah hulu sungai laea. Tahun 1937, sebagian masyarakat pada laea meminta kepada mokole hukaea (lababa) untuk membangun pemukiman di daerah hulu sungai berdekatan dengan tobu hukaea. Dengan terbentuknya dan berkembangnya sejumlah tobu sepanjang sungai laea, maka pemerintah distrik rumbia yang wilayah mencakup 11 tobu, yakni 7 yang sekarang diklaim sebagai kawasan TNRAW dan 4 lainnya berada diluar taman nasional. Ketujuh tobu yang dimaksud adalah, laea, hukaea, wukulano, wawompoo, wambakowu, lalompala, sedangakan 4 tobu laninya adalah rarongkeu (desa lameroro sekarang) puungkowu (Dusun II wambubangka sekrang) serta tembe (desa hukaea baru sekarang). Keadaan geografis dan lingkungan alam LaEa-HukaEa memiliki kawasan ulayat dengan topografi yang umumnya datar didominasi oleh hamparan padang savana, hutan hujan tropis dataran rendah dan hutan Mangrove. Di bagian barat berbatasan dengan lokasi HTI PT. Barito Pasifik Timber dan Osu (gunung) Mendoke, bagian utara yang dibatasi oleh pengununggan Watumohai dan Tawunaula, bagian timur berbatasan dengan selat Tiworo dan bagian selatan berbatasan dengan HTI PT. Barito Pasifik Timber serta beberapa desa diantaranya desa Lombakasi, Desa Langkowala dan Lantari Jaya. Selain itu di tobu LaEa-HukaEa juga terdapat sungai Lahalo, Raromponda dan sungai LaEa yang bermuara di Teluk Tiworo. Sebagai mana umumnya daerah di Sulawesi Tenggara, iklim di LaEa-HukaEa tergolong dalam iklim tropis dengan musim hujan antara bulan Maret hingga bulan Juni. Hutan Adat Usulan
716 13-08-2019 Hutan Adat Andulang
Sulawesi Selatan 
Kab. Enrekang 
Sejarah Masyarakat Adat Andulang, sangat berkaitan erat dengan cerita-cerita To Manurun di Sulawesi Selatan. Menurut pandangan Pemangku Adat setempat yang sangat terkenal dengan sebutan “Appa Allirinna Wanua” atau “empat pilar penopang kehidupan” yang merupakan representasi dari empat unsure kehidupan berupa tanah, air, udara dan api. Sebelum Masyarakat Adat Andulang bermukim di Kampong Labuku (sekarang Desa Labuku), pada awalnya Masyarakat Adat Andulang merupakan komunitas-komunitas yang hidup secara berpindah-pindah di pengunungan-pegunungan Latimojong tepatnya di Bonto Tumeneng dengan pola perkampungan mengikuti lokasi-lokasi dara’ (kebun-kebun) yang dibangun komunitas-komunitas. Pola kehidupan ini berlangsung sejak turun temurun hingga hingga saat ini. Masyarakat Adat Andulang merupakan satu-kesatuan rumpun dari komunitas adat Roa, yang terkenal dengan Sebutan : - Indo’I La Buku - Ana Macoa I Batarang - Ana’ Tangnga I Baringin - Ana’ Cappa’ I Tanete Keberadaan Masyarakat Adat Andulang, dibuktikan dengan adanya beberapa situs yang sampai saat ini masih dijaga Bagi Masyarakat Adat Andulang, pembatasan wilayah kelola yang dilakukan Pemerintah Kolonial Belanda sudah membatasi/memperkecil wilayah kelola Masyarakat Adat Andulang. akan tetapi kebijakan yang dimasih dianggap jauh lebih baik ketimbang sekarang ini yang sama sekali tidak memberi pengakuan atas wilayah kelola Masyarakat Adat Andulang. Hal ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah di bidang kehutanan yang menetapkan sebagian wilayah Masyarakat Adat Baringin (hutan) sebagai kawasan Hutan Lindung (HL) 80-an. Hutan Adat Usulan
717 23-07-2018 Hutan Adat Mukim Blang Mee
Aceh 
Kab. Aceh Besar 
Mukim Blang Mee terdiri atas 6 gampong, yaitu Lamkuta Blangmee, Teungoh Blangmee, Baroh Blangmee, Umong Seuribee, Teungoh Geunteut, Baroh Geunteut. Luas wilayah adat Mukim Blang Mee adalah 3.478 Ha. Mukim Blang Mee sebelah utara berbatasan dengan Mukim Cot Jeumpa; sebelah selatan berbatasan dengan Mukim Lhoong; sebelah timur dengan Kabupaten Pidie; dan sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia . Jumlah keluarga sebanyak 650 KK (2105 jiwa). Beberapa komunitas yang berdekatan dengan Mukim Blang Mee adalah Mukim Lhoong dan Mukim Cot Jeumpa. Hutan Adat Usulan
718 23-07-2018 Hutan Adat Mukim Lango
Aceh 
Kab. Aceh Barat 
Mukim Lango terdiri atas Lango, Lawet, Canggai dan Sikundo dengan jumlah penduduk sebanyak 2.042 jiwa (293 KK). Wilayah Mukim berada di ketinggian 200-450 Mdpl dengan Sebelah Utara berbatas dengan Aceh Tengah; Sebelah Selatan berbatas dengan Krueng Meureubo/Mukim Manjeng; Sebelah Timur berbatas dengan Kecamatan Beutong Ateuh Nagan Raya; Sebelah Barat berbatas dengan Mukim Meunuang Kinco. Hutan Adat Usulan
719 23-07-2018 Hutan Adat Marena
Sulawesi Tengah 
Kab. Sigi 
Pada zaman dahulu desa Marena hanyalah hutan belantara dan menjadi tempat persinggahan oleh para penggembala ternak kerbau dari Kulawi yang ingin pergi ke Gimpu (sekarang dikenal dengan nama desa Gimpu), begitupun sebaliknya. Para pengembala memilih untuk beristirahat dan menginap disitu karena alasan bahwa dulunya kerbau tidak akan mampu jalan lagi jika belum mandi. Tempat tersebut dikenal dengan nama Movuhu yaitu tempat kerbau untuk berkubang atau mandi. Movuhu dalam bahasa Kulawi Oma adalah tempat bergenangnya air. Proses terjadinya denangan air dsebabkan oleh adanya tanggul alami yang berbentuk gunung kecil di sekitar sungai yang menampung sebagian air sungai dan air hujan. Hingga pada suatu hari terjadi bencana alam (banjir) yang merusak tanggul gunung-gunung tersebut. Hingga hanya menyisakan lumpur dan tidak ada lagi genangan air untuk permandian kerbau. Akibat dari bencana banjir dan menyebabkan mengeringnya tempat kubangan atau permandian kerbau tersebut, maka kerbau hanya bisa berkeliaran di tempat tersebut. Awal mula penamaan desa Marena sebelum dikenal seperti sekarang adalah Morena. Nama morena diambil dari bahasa setempat (bahasa moma ) yang artinya adalah bekas genangan air untuk kubangan atau permandian kerbau dan kemudian hanya menjadi tempat berkeliarannya kerbau. Untuk lebih memudahkan untuk diinginat dan pengucapannya, maka akhirnya nama Morena diganti dengan Nama Marena hingga sampai saat ini. Hutan Adat Penetapan Hak
720 23-07-2018 HUTAN ADAT TAWANG PANYAI
Kalimantan Barat 
Kab. Sekadau 
Masyarakat adat yang sekarang mendiami Kampung Tapang Sambas – Tapang Kemayau menyebut dirinya Masyarakat Adat Suku Dayak De’sa, yang secara kuantitas cukup besar di Desa Tapang Semadak. Jumlah penduduk adalah 200 Kepala Keluarga, 709 Jiwa terdiri dari 379 Laki-laki dan 330 Perempuan. Mata pencaharian utama mereka adalah berladang (be-uma) lahan kering, bersawah (uma payak) dan menyadap getah karet. Sebagai Masyarakat Adat, khususnya Dayak, Masyarakat Adat di Kampung Tapang Sambas – Tapang Kemayau memiliki kelembagaan dan aturan adat secara turun-temurun. Kampung Tapang Sambas – Tapang Kemayau secara Pemerintahan Adat berada di bawah Ketemenggungan Tapang Semadak. Dengan struktur kelembagaan adat adalah Temenggung sebagai Pemangku Adat Tertinggi, kemudian Menteri Adat yang dibantu Sekutu Adat sebagai Pengurus Adat tiap-tiap kampung. Jabatan pengurus adat memiliki tugas dan kewenangannya masing-masing. Uniknya, Pemerintahan Ketemenggungan ini menguasai 3 sub suku, yakni Dayak De’sa, Dayak Ketungau dan Melayu. Hutan Adat Penetapan Hak
Displaying : 711 - 720 of 763 entries, Rows/page: