DATA WILAYAH KELOLA
No. Tanggal Input Nama Wilayah Kelola Profil Jenis Wilayah Kelola Tahapan  
701 29-07-2020 Hutan Adat Karampuang
Sulawesi Selatan 
Kab. Sinjai 
Hutan Adat Usulan
702 29-07-2020 Hutan Adat Barambang
Sulawesi Selatan 
Kab. Sinjai 
Hutan Adat Usulan
703 29-07-2020 Hutan Adat Tabulahan
Sulawesi Barat 
Kab. Mamasa 
Hutan Adat Usulan
704 13-04-2020 Hutan Adat Rantebua
Sulawesi Selatan 
Kab. Toraja Utara 
Hutan Adat Usulan
705 13-04-2020 Hutan Adat Kesu
Sulawesi Selatan 
Kab. Toraja Utara 
Hutan Adat Usulan
706 13-04-2020 Hutan Adat Sindagamanik
Sulawesi Barat 
Kab. Mamasa 
Hutan Adat Usulan
707 31-03-2020 Hutan Adat Buntao
Sulawesi Selatan 
Kab. Toraja Utara 
Masyarakat adat Buntao’ pada mulanya bertitik tolak dari turunan Palino dari Banua Puan ( nama rumah adat ) dengan Aluk Sanda Pitunna (Aturan ). Turunan Palino’ ini namanya Parenge’ yang akhirnya berkembang dan Aluk Sanda Pitunna (aturan)dengan hanya mengatur kelompoknya ke dalam tetap menjadi aturan sampai beberapa generasi. Akhirnya Aluk Sanda Pitunna(aturan) ini digeser dengan datangnya Aluk Sanda Saratu’ (aturan) yang dikembangkan oleh seorang putra dari Simbuang namanya Panggelo yang ada kebudayaannya dengan Tambaro’ Langi’ pemberka Aluk Sanda Saratu’(aturan). Penggelo tidak lagi datang dengan Aluk Sanda Saratu’( aturan) tapi membawa juga tatanan adat yang akhirnya tatanan adat ini sangat dihormati masyarakat adat Buntao’ sampai sekarang ini. Salah satu tatanan adat yang menjadi spesifik masyarakat adat dalam wilayah Patang Penanian (Buntao) yaitu sibokoran talinga untuk menikam babi (jika ingin menikam babi maka bagian yang harus ditikam atau adalah bagian belakang telinga babi tersebut). Salah satu ciptaan Panggelo yang paling dihormati / ditakuti masyarakat adat Patang Penanian (masyarakat adat Buntao’) sampai sekarang ini adalah Bassena Panggelo( perjanjian). Kalau Aluk Sanda Pitunna (aturan) hanya mengatur kelompoknya ke dalam, maka Aluk Sanda Saratu’ (aturan)mulai mengatur masyarakat mengembangkan diri keluar dengan tatanan-tatanan adat dan hukum-hukum adat serta tidak lupa mengembangkan pengelolaan sumber daya alam yang bertitik tolak dari Tallu Lolona (hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan tumbuh-tumbuhan). Dengan Bassena Panggelo (perjanjian ) dan tatanan adat yang diaturnya serta hukum adat yang dibinanya melalui Aluk Sanda Saratu’ ( peraturan) Buntao’ yang pada masa Aluk Sanda Pitunna (aturan) hanya terdiri dari satu Penanian (wilayah) yang pada waktu itu hanya disebut Buntao’ dari Kattu’ sampai Ne’ Leppe sebagai Toparengnge’na (pemangku adat) mulai mendapat perhatian dari wilayah Kaparengngesan lingkunganya( wilayah adat). Pitung Penanian (wilayah) yang dikenal sekarang ini pada mulanya sebelum Aluk Sanda Saratu’( aturan) masuk masih berdiri sendiri dan kalau kita melihat sejarah keberadaan masing-masing Penanian(wilayah) bahwa : “Penanian Buntao’ ( wilayah Buntao’) dan Penanian( wilayah) Sapan Kua-kua masih satu belum terpisahkan satu dengan yang lain dari Kattu’ sampai masa Ne’ Leppe sebagai Toparengnge’na (pemangku adat). Penanian (wilayah) Buntao’ dibawah Aluk Sanda Pitunnna (aturan) dengan datanganya Panggelo ditempat itu sebagai pembawa Aluk Sanda Saratu’ (aturan) merubah sistem dari hanya mengatur kelompoknya ke dalam mulai itu mengembangkan dirinya keluar dan mulai mengenal dengan Penanian-penanian( wilayah-wilayah) lain. Penanian (wilayah) Balabatu waktu itu masih dikuasai Bokko dibawah kekuasaan Tumbang Datu. Penanian (wilayah) Tiropadang yang di Lili’ (dikuasai) Tandi Tonda masih otonom sendiri dengan tetap pada pelaksanaan Aluk Sanda Pitunna (aturan). Kalau melihat sejarah keberadaan Tiropadang baik masa Topada Tindo (pejuang) maupun masa terbentuknya Basse (janji) Tokau ( Anaknya Tando Tonda ) dengan Topaya (Palodang) terbukti bahwa Tiropadang berdiri sendiri tanpa disertai dengan Tambako Langi’ yang dibawah Panggelo masuk di Penanian (wilayah) Buntao’ mulailah Penanian Penanian (wilayah- wilayah) yang lain. Basse Sangrodoan tinting Tandi Sangrabekan Laang-laang anna situka’ sanga To Kaulolokna Topaya daa ( Di dalam pelaksanaan Aluk Sanda Saratu’ (aturan) ciptaan Tiropadang ingin bersatu dengan Penanian (wilayah) Balabatu melepaskan diri dari kekuasaan Bokko masuk (tipali’) tana Buntao’.Penanian (wilayah) Buntao’ juga memekarkan diri menjadi 2 penanian ( wilayah) yaitu penanian ( wilayah) Issong Kalua’ dan Penanian (wilayah) Paniki. Masa Ne’ Lai Kata (Leko) terbentuklah pemerintahan bersatu atau pemerintahan adat yang diciptakan Basse Sangrodoan Tinting Sangrodoan Payo-payo. Basse (perjanjian) ini membawa Issong Kalua’, Paniki, Balabatu, Tiropadang bersatu dalam satu kesatuan yang disebut Patang Penanian Misa’ Ba’bana( empat wilayah adat yang dihimpun dalam satu wilayah adat) Basse (perjanjian) ini menjelaskan juga bahwa Pitung Penanian ikut juga (Mekaindo’ Tama Buntao’) dan bergabung dengan Patang Penanian (empat wilayah adat) membentuk pemerintahan adat yang daerah kekuasaannya tersdiri dari 11 (sebelas) Penanian. Basse (janji) ini dibuat di Tembamba dengan penanaman Lamba’ (sejenis pohon) yang menjadi simbol kesatuan dari 11 (sebelas) penanian (wilayah).  Ditanami Lamba’ (sejenis pohon ) sebagai lambang pemerintahan dan To Tumekkana Doke to tumakin la’bo’ (pelindung, dan pembela) digelar Lamba’ Paonganan(pelindung wilayah adat). Unnonganni tau kamban lan sangpulo misa Penanianna dengan singgi’ to mamma’ balun-balun todi tundan to mamma’, dirujang to ma’tindo ke denni kakean buntu lan sangpulo misa penanianna itulah sehubungan dengan Basse Issong Kalua’ sebagai Pa’pakembangan. Pemerintahan ini terdiri dari 11 (sebelah) kaparengngesan / penanian yang masing-masing penanian memiliki wilayah-wilayah adat Buntao’ terdiri dari 2 kelompok dan setiap kelompok bergabung beberapa Penanian (wilayah) Kelompok Patang Penanian Misa’ Ba’bana( kelompok empat wilayah adat) a. Issong Kalua’ sebagai Pa’palumbangan ( mengatur aluk , dan adat dalam wilayah Buntao’) b. Sapan Kua-Kua sebagai Diporinding Daun Induk diposapan kua-kua.(menilai kehidupan/ tingkah laku dalam masyarakat ) c. Rinding Kila’ sebagai diporinding kila’na ( penjaga keamanan). d. Tiropadang sebagai dipotongkonan Basse (tempat mengikat atau menyusun janji) Arti dari atau maksud dari pada setiap kaparengesan / penanian yang dimaksud oleh Basse (perjanjian) maknanya adalah : Issong Kalua’ sebagai Pa’palumbangan artinya : Pa’palumbangan yang dimaksud disini bahwa dalam Issong Kalua’ bertempat tinggal To mamma’ balun-balun to ditundan to mamma’ to dorogang to ma’tindo kedenni kakean buntu menunjukkan bahwa to tumekken doke to tu makin la’bo’ dimintai (dipaelei). Dan pa’palumbangan disini menunjukkan arti bahwa pemerintah adat ada dalam tangan tunggal yaitu anak Patalo. Jelasnya bahwa segala masalah yang terjadi dan akan terjadi ditangannya (dipaele) Issong Kalua’ khususnya pada pa’paelean tunggal. Paniki Sebagai diporinding daun induk diposapan kua-kua artinya : Paniki sebagai pembatas atau pertahanan baik serangan maupun serobotan dari masyarakat luar terutama dari Kesu’ dan La’bo’ yang berbatasan dengan wilayah Paniki. Lebih jelas lihat singginya. Balabatu sebagai diporinding kila’ artinya bahwa bila mana ada serangan dari luar Balabatu sebagai pertahanan. Tiropadang sebagai Tongkonan Basse artinya ia na den (Kalau ada) masalah lan penanian lain disopong (dibawah) di Tiropadang untuk diselesaikan. Berbicara tentang pemerintahan adat sejak itu yang dikagorikan sesuai Basse Sangrodoan Tinting sangrodoan Payo-payo ( janji yang utuh dengan kesepakatan) ada dua tempat yang masih terungkap yaitu Kalengkong sebagai Dipoliku Lambe’na dan Salu sebagai diposedanan Tapo. - Kalengkong sebagai Dipoliku Lambe’na masih termasuk wilayah penanian yang tersebut diatas hanya karena masa itu Kalekong penuh dengan kerbau lambaranna Ne’ Lai Kata itu maka maksud dari pada Dipoliku Lambe’na adalah bahwa bilamana ada kakean buntu (kekacauan) yang terjadi dalam wilayah Patang Penanian dan Pitung Penanian dari situlah orang mengambil ongkos / biaya untuk melakukan perang. - Salu sebagai diposedanan Tapo Salu ini masih termasuk salah satu penanian (wilayah) diatas dan maksud dari pada Diposedanan Tapo disini karena salu ini adalah daerah pertanian dan daerah perkebunan maka bila ada orang lewat dan lapar atau haus boleh maka apa saja yuang ditemui atau minum apa saja yang bisa di minum (Tua’) dengan syarat hanya dimakan dan di minum di situ tidak (pemali= dilarang ) membawanya pulang . Basse Tokau dengan Topaya (Palodang) Basse Sarodoan Tondo’ Sangrabeka Laang-laang anna situka’ sanga To kaulolok na Topaa daa. Naskah / perjanjian : 1. To Buntao’ mate lan sangngalla’ tang disapu aakna tang koko kalepakna. 2. To Sangalla’ mate lan Buntao’ tang disapu aakna tang dikoko kalepakna 3. Puang ke Tamai lan Buntao’ tae’na ma’din ma’narang randuk lo’ mai Purabaya. 4. To Sangalla’ tae’na ma’din papalloi papa tando’na to Buntao’ 5. Sedan topona Sangalla’ randuk lo’mai purabaya angga lan kaleakan. 6. Sedan topona to Buntao’ randuk lok kulikkayu sae lako songgo. Ia ke denni tedong anduran nabaa to Buntao’, ……(1)…… namane ummpoasulei. 7. Ia tu puang ke mentamai Buntao’ tae’na ma’din di pekapuangngi mabusung ke dipekapuangngi. Basse Sangrodoan Tinting Sangrodoan Payo-payo Anna tiberu susuk takinan la’o’ tama padang di Buntao’ anna dibe’do katonan tekkenan doke tama pata’padang, anna dipabendan tu Ne’Lai’ Kata untekkenanni doke untakinanni la’bo’ anna mekaindo’ di pitungpenanian tama Buntao’, anna dipoliku lambe’na padang dikatengkong anna diposedanan topo padang di salu saa, anna dipopua-pua rarak padang di Bokin, anna diporinding daun induk diposapan kua-kua padang dibuangin, anna dipamaririnna tallo’ pada di Issong, anna dipopalisunna umbu’ padang di Hutan Adat Usulan
708 14-08-2019 Komunitas Adat Tangsa
Sulawesi Selatan 
Kab. Enrekang 
Sejarah asal usul Masyarakat Adat Tangsa berdasarkan SALUAN NENEK / cerita turun temurun adalah perkawinan antara dua orang yang pertama (termasuk manusia ajaib) yaitu DASSI LONDONGAN dengan SAEMBONA yang melahirkan tiga orang anak yaitu : 1. Masoang 2. Embong Bulan 3. Takke Buku Dikatakan sebagai manusia ajaib karena kedatangan, kelahiran dan kematian mereka tidak diketahui, hingga sangat ajaib dan kalau diceritakan sangat panjang. Terbentuknya Komunitas Masyarakat Adat Tangsa/ A’PA TEPONA BUA’ yaitu pada generasi ke empat (4) dari manusia pertama itu ada yaitu diawali dengan terbentuknya BUA’ di Alla’ menyusul BUA’ di tangsa, BUA’ di kaduaja dan to’ue. 1. Bua’ Alla Struktur Lembaga adat di Bua’ alla dibentuk Nene’ Tangdigau (Penguasa adat masa itu) bersama pejabat adat tongkonan lainnya sebagai berikut : a. To bara’ (Tongkonan buntu dijabat Tangdigau Bertugas mengendalikan/ memimpin pemerintahan adat (bahasa daerah pera’pak tomawatang petumpak tomadodong) b. To Indo’ (tongkonan buntu tangga dijabat pemilean) bertugas mengatur jalannya pemerintahan adat, kesehatan, pertanian dan peternakan (bahasa daerah tosirio tallu lolona ) c. To Manyampan (to sumerek tongkonan lombok dan tongkonan to lamba’ menangani peradilan adat dan lain lain. d. To Mentaun (tongkonan buntu lalandi dijabat Mede) Yang bertugas mengamati perjalanan bulan dan bintang yang menjadi pedoman memulai sesuatu kegiatan hidup masyarakat antara lain : bidang pertanian, peternakan dll. Pejabat adat tongkonan tersebut di atas dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh 9 (sembilan) Tongkonan yakni : 1. Tongkonan Pollo’tondok, Toma’nyemu 2. Tongkonan Tangdirossok, Tomanobok 3. Tongkonan to’induk (Todipa’pailei) 4. Tongkonan Issong batu (toma’karerang) 5. Tongkonan Kilo kilo jaonan (toma’rinding bamba) 6. Tongkonan Kilo kilo jiongan (Ambe’ pea’ muane) 7. Tongkonan to duajen 8. Tongkonan bala batu / lo’ko bulan (pong seba) 9. Tongkonan bola batu / lo’ko bulan (tandirerung) 2. Bua’ Tangsa Mempunyai struktur lembaga adar sebagai berikut 1. To’mea dengan status to bara’ dijabat oleh ne’ bukku 2. Tampak dengan status to indo’ dijabat oleh nene’ ani 3. Banua sura’ dengan status tosumuruk dijabat oleh mama muli 4. Banua poa dengan status tomanyampan dijabat oleh ambe renni 5. Keppe dengan status tomaknyemu 6. ulu tondok dengan status to mentaun dijabat oleh ambe’ bancong 7. Tanggatondok dengan status tomellaolangi dijabat oleh so, banni 3. Bua’ To’ue Mempunyai struktur lembaga adat sebagai berikut : 1. Tobara’ dijabat oleh ambe’ jeni 2. To indo’ dijabat oleh ambe’ suleman 3. Toma’nyemu dijabat oleh ambe usi 4. Tomanyampan dijabat oleh ambe’ eni 5. Tomentaun dijabat oleh Tappi 6. Tomanobok dijabat oleh goli’ 4. Bua’Kaduaja Mempunyai struktur lembaga adat 1. Kaduaja dengan statusto bara’ dijabat oleh Takkalawa 2. Sangbua dengan status toindo dijabat oleh tambin 3. sangka denganstatus toma’nyemu dijabat oleh juma’ 4. Tomanyampan dijabat oleh pedang 5. Tomentaun dijabat oleh rubak kenden 6. sekpon dijabat oleh indo suri 7. Tokambola dijabat oleh siang Kesepakatan memberikan nama Komunitas Masyarakat Adat A’PA TEPONA BUA’ menjadi Komunitas Masyarakat Adat Tangsa berdasarkan musyawarah adat yang di adakan pada tanggal 24 oktober 2008 di tangsa dengan alasan sbb : 1. Tangsa yang di kenal sebagai pusat sejarah, asal usul dan tempat kedudukan salah satu tongkonan layuk yaitu Tongkonannya Embong Bulan. 2. sebagai suatu organisasi masyarakat adat besar yang pernah ada yaitu Aruan Tangsa Hutan Adat Penetapan Hak
709 14-08-2019 Komunitas Adat Pana
Sulawesi Selatan 
Kab. Enrekang 
Mendengar kata PANA bagi mayarakat Kabupaten Enrekang terutama bagi yang bermukim di Duri kompleks maka yang ada dalam pikiran adalah sebuah tumbuhan beruas-ruas dan salah satu jenis komoditi hasil pertanian namun itu berbeda jika nama Pana disematkan pada sebuah tempat maka dengan segera orang menyebut sebuah Desa sebelah utara kabupaten Enrekang, jarak dari ibukota kabupaten sekitar 24 kilo meter. Penyebutan tempat ini dengan pana berdasarkan penuturan tetua adat Ola Nakka dikisahkan bahwa dulu ketika Kebo Kebo dan Tandere Rilangi’ berjalan jalan kearah selatan dari Bubun Batu Gunung Rajan, tiba-tiba mereka menemukan sejenis tumbuhan, yang ternyata tumbuhan itu adalah pana (jahe merah) berjumlah tiga buah, penemuan ini menjadi dasar penyebutan tempat dimana komunitas ini berada menjadi Pana. Selengkapnya desa Pana secara adminitrasi kecematan berada dalam wilayah Kecamatan Alla’ Kabupaten Enrekang Propinsi Sulawesi selatan. Masyarakat adat Pana berdasarkan sejarah asal usul leluhur yang diceritakan secara turun temurun masih jelas dalam ingatan generasi pemangku adat, ini sebagai bukti keteguhan masyarakat adat Pana dalam menjaga silsilah keturunan sebagai bagian penting dari komunitas sendiri. tentang leluhur mereka yang pertama kali ada dan mendiami Pana dapat dicatat sebagai berikut; Matindo Dama kawin dengan Tomellao Langi melahirkan tiga (3) orang anak yakni : 1. Kebo kebo 2. Paulang 3. Bentuin Kebo kebo kawin dengan Tandere Langi melahirkan 1. Tumbak To Pana 2. Palangnganan Tumbak To Pana kawin dengan Lai’ Rinding Nama Bubun Batu muncul karena ditemapat awal mereka bermukim disitu ada batu berlubang dan dijadikan sumur. Kemudian idak jauh dari bubun batu Tumba’ Pal a’ta’ membangun lagi satu rumah yang mempunyai longa maka rumah itu diberi nama longa longa, setelah rumah itu menduduki jabatan adat maka rumah itu diberi nama Tongkonan Longa longa. Didalam kehidupan masyarakat adat itu tidak lepas dari ritual-ritual begitupun dengan Masyarakat Adat Pana. Untuk membuang sial misalnya ketika ada anggota masyarakat yang sakit diadakan ritual mangnganta’. Ketika ada yang meninngal untuk mengenang kepergiannya diadakan acara Rambu Solok hingga pada hari ke 40. Komunitas Adat Pana Adalah salah satu Bua’ dari Karua Bua’ yang ada dikomunitas adat baroko, masing-masing dari bua’ tersebut bersifat otonom atau mandiri, mereka bagaikan suatu perkumpulan/federasi. Komunitas Adat Pana terbentuk setelah terbentuknya Tongkonan di Bubun Batu inilah yang memulai mengurus segala urusan yang ada di sekitar wilayah itu. Komunitas BUA’ ini diberi nama Bua’ Pana karena tidak jauh dari Tongkonan Bubun Batu di dapatkan tumbuhan Pana (jahe) yang konon kabarnya Pana/jahe tersebut adalah ajaib karena selalu menghilang, kadang hilang kadang muncul dan juga pana/jahe itu dapat dijadikan obat. Hutan Adat Usulan
710 14-08-2019 Komunitas Adat Uru
Sulawesi Selatan 
Kab. Enrekang 
Masyarakat adat Uru merupakan suatu komunitas yang hidup dan bermukim di lereng Buntu Tonggo yang masih rangkaian dari pegunungan lantimojong. Secara administratif, masyarakat adat uru berada di Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enrekang. Masyarakat Adat Uru dibentuk diatas ruang kehidupan yang dibangun berdasarkan nilai-nilai keyakinan atas sang pencipta dan pesan para leluhur. Secara turun temurun menjadi suatu tradisi, mewarnai pola hidup, menjadi identitas dan jati diri. Secara Genealogis, leluhur pertama atau istilah Tojolo Masyarakat Adat Uru disebut To Uru/Masan. Masan bermukim dikawasan Babangan Lompona Tana Duri atau gerbang utama tanah duri yang mencakup wilayah Angge Buntu, Eran Batu dan Ledan. Disebut gerbang utama karena pada jaman dulu wilayah tersebut menjadi poros utama lalulintas perjalan Orang-orang yang hendak memasuki wilayah Tanah Duri, Tana Toraja dan yang akan bepergian ke Luwu. Tidak banyak kisah yang terdengar seperti apa dan bagaimana kehidupan Masan kala itu, dari mana asalnya dan siapa istrinya meskipun Masan kemudian memiliki cucu yang bernama Sambira. Tidak didapatkan sumber yang mengetahui atau pernah mendengar siapa nama orang tua Sambira yang merupakan saudara dari orang tua Ne’ Karena’ yang bermukim di Eran Batu. Setelah Sambira, maka generasi berikutnya adalah Lando Kundai yang kemudian melahirkan tiga orang anak. Anak pertama bernama To Pasamban yang mendiami Wilayah Angge Buntu, anak kedua bernama Paboco’ yang memilih pergi dan menetap di Wilayah Bungin dan anak ketiga bernama Paidinan yang kemudian bermukim di Uru. Tokoh Paidinan inilah yang kemudian membangun peradaban di Uru dan keturunanya kelak sebagian menjadi Tomatua Pejujung Bunga lan Pahakampongan. Hutan Adat Penetapan Hak
Displaying : 701 - 710 of 763 entries, Rows/page: