DATA KONFLIK

No

Tahun

Judul

Klip

Konflik

Sektor

 

11 1999 Wilayah Adat dan Identitas Marga Suku IX yang dihilangkan oleh Pemerintah Padan tahun 1979 kelembagaan adat dihapuskan, kemudian pada tahun 1980 Pemerintahan Propinsi membuat Perda tentang Penghapusan Marga di Propinsi Bengkulu. Tahun 1999 Dikeluarkannya KEPMEN Kehutanan RI No 420/Kpts-II/1999 tanggal 15 Juli 1999 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Lingkup Propinsi Bengkulu; dan Pada Acuan Tata Ruang Wilayah Propinsi yang dikukuhkan melalui TGHK dan Paduserasi kawasan tanpa melibatkan Masyarakat Hukum Adat
Taman Nasional
Hutan Konservasi
12 1999 Hutan Batas Bozzen Jurukalang tidak diakui Taman Nasional Kerinci Seblat konflik klaim kepemilikan lahan antara masyarakat Jurukalang dengan Kawasan Konservasi (Hutan Lindung, TNKS, dan Cagar Alam). Pada tahun 1827 Pemerintahan Belanda menetapkan Sebagian Wilayah Hutan di Jurkalang sebagai Kawasan yang di Lindungi oleh masyarakat Jurukalang di Kenal dengan Hutan Batas Bosszen atau BW, kawasan Hutan Patok BW berada di luar Lahan
Taman Nasional
Hutan Konservasi
13 1998 Perambahan Hutan di Pulau Enggano oleh PT. Enggano Dwipa Persada Persoalan bermula dari Masuknya perusahaan besar PT. Enggano Dwipa Persada (EDP) pada tahun 1998 yang mendapat ploting area seluas 10.000 hektar di pulau Enggano. Perusahaan ini berencana melakukan pembukaan lahan oleh di pulau Enggano untuk usaha pakan ternak, namun kemudian berubah menjadi perkebunan melinjo dengan melakukan penebangan hutan seluas 2400 hektar.
hutan
Hutan Produksi
14 1927 Konflik klaim kepemilikan lahan antara masyarakat Bermani dengan Kawasan Konservasi Konflik yang terjadi saat ini adalah konflik klaim kepemilikan lahan antara masyarakat Bermani dengan Kawasan Konservasi (Hutan Lindung Rimbo Pengadang, Cagar Alam dan TNKS)
Taman Nasional
Cagar Alam
Hutan Konservasi
15 2017 Masyarakat Adat Semende Vs TN Bukit Barisan Selatan DI kawasan TNBBS ini terdapat tiga kelompok sosial, yaitu masyarakat desa, PT. Adhiniaga Kreasinusa, dan pemerintah (Kemenhut RI). Di dalam ekosistem TNBBS tersebut, masing-masing dari tiga kelompok sosial tersebut memiliki kepentingan yang berbeda satu sama lain. Pihak TNBBS sebagai pengelola memiliki kepentingan untuk melakukan kebijakan, perencanaan, dan program untuk melindungi dan mengelola lingkungan hidup Bukit Barisan Selatan yang memiliki luas sekitar 365.000 hektar. PT. Adhiniaga Kreasinusa sebagai korporasi yang memiliki tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) melaksanakan tanggung jawabnya dengan melakukan berbagai kegiatan konservasi di area TNBBS, mulai dari konservasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), pembibitan kayu ulin, perlindungan kawasan laut, dan berbagai fauna lainnya. Di kawasan yang dikelola oleh TWNC, fauna seperti rusa sambar (Cervus unicolor), kijang (Muntiacus muntjac), kerbau liar (Bubalus bubalis), burung merak dan kuda dapat ditemukan hidup liar di sana. Di sisi lain, masyarakat desa yang berbatasan dengan TNBBS memiliki kepentingan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Masyarakat desa memenuhi kebutuhan hidupnya dengan memanfaatkan dataran di sekitarnya baik tanah berupa hutan maupun laut. Kegiatan pemenuhan kebutuhan tersebut telah dilakukan oleh masyarakat desa bertahun-tahun lamanya di daerah TNBBS. Perbedaan kepentingan ini menyebabkan terjadinya konflik kepentingan di antara ketiga kelompok sosial tersebut. Di antara masing-masing kelompok sosial tersebut terjadi saling klaim terhadap sumber daya yang berada di dalam area TNBBS tersebut bahwa sumber daya tersebut merupakan hak kelompok yang satu dan bukan hak kelompok lainnya.
Taman Nasional
Hutan Konservasi
Displaying : 11 - 20 of 15 entries, Rows/page: