DATA DETIL
Perampasan Lahan Masyarakat Adat Marga Bulang Tengah Semangus

 SUMATERA SELATAN, KAB. MUSI RAWAS

Nomor Kejadian :  57
Waktu Kejadian :  15-11-2016
Konflik :  hutan
Status Konflik :  Dalam ProsesMediasi
Sektor :  Kehutanan Produksi
Sektor Lain  :  
Luas  :  7.000,00 Ha
Dampak Masyarakat  :  1.200 Jiwa
Confidentiality  :  Public

KETERLIBATAN

  • Pemkab Musi Rawas
  • Polres Musi Rawas
  • PT Musi Hutan Persada

KONTEN

Kabupaten Musi Rawas merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan, letaknya disebelah barat di hulu Sungai Musi dan Sepanjang Sungai Rawas. Kabupaten ini berbatasan dengan Provinsi Jambi di bagian utara, di bagian selatan berbatasan dengan Kabupaten Empat Lawang, di bagian Barat berbatasan dengan Provinsi Bengkulu dan di bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Musi Banyu Asin dan Kabupaten Muara Enim. Kabupaten Musi Rawas beribukota di Kota Lubuklinggau dengan ketinggian 129 meter dari permukaan laut.
Jauh sebelum merdeka Marga Bulang Tengah Semangus Kecamatan Muara Lakitan Kabupaten Musi Rawas Propinsi Sumatera Selatan telah mendiami wilayah adat mereka. Hal ini dibuktikan dengan peninggalan sejarah berupa makam-makam leluhur, kampung tua, kebun-kebun, rumah adat termasuk stamboom yang dikeluarkan oleh Depati Muhamad Agen sekitar tahun 1950an. Stam boom ini berisi tentang batas wilayah marga, pengelolaan hutan dan sungai, kelembagaan adat, aturanaturan pemilihan pemimpin adat, aturan pendirian musholla, silsilah pemimpin serta peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Marga Bulang Tengah Semangus.
Warga Desa Semangus, Kecamatan Muara Lakitan, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, hanyalah salah satu desa di tepi Sungai Musi. Desa ini pun terletak persis di tepi muara Sungai Semangus yang bermuara di Sungai Musi. Sumber nafkah warga desa ini, seperti juga semua desa di tepi Sungai Musi, mengandalkan hasil kebun, seperti karet, kopi, durian, dan duku. Sebagian kecil lainnya mengandalkan sumber nafkah dari padi ladang.
Sebagai informasi, pada 1992-1996, sebuah perusahaan hutan tanaman industri (HTI) yakni PT. Barito Pacific—kini menjadi PT. Musi Hutan Persada (PT. MHP)—mendapatkan izin konsensi lahan seluas 100 ribu hektar di wilayah Kabupaten Musi Rawas. Salah satunya di hutan adat Semangus seluas 70 ribu hektar. Sekitar 1996, pemerintah kemudian membuat program transmigrasi berupa Desa HTI yang lokasinya di Hutan Adat Semangus. Sampai saat ini tercatat enam desa HTI yakni SP-5 Trianggun jaya, SP-6 Bumi Makmur, SP-7 Pian Raya, SP-9 Harapan Makmur, SP-10 Mukti Karya, dan SP-11 Sindang Raya.
Dalam perkembangannya, warga di keenam desa tersebut bertambah. Sebagian warga lokal kemudian membuka lahan perkebunan yang baru. Warga berdalih lahan yang dibuka merupakan lahan adat Semangus, sementara PT. MHP mengklaim lahan tersebut merupakan lahan konsensinya. Sekitar 7.000 hektar lahan yang menjadi konflik. Konflik yang terjadi pada tahun 2016 ini bermula dari adanya penggusuran di sekitar lahan masyarakat adat Semangus yang memicu kekerasan. Menurut warga setempat seharusnya Pemerintah Kabupaten Musi Rawas meninjau kembali izin konsensi perusahaan yang membuat hutan rusak dan memiskinkan masyarakat. Warga juga meminta Pemkab Musi Rawas menghentikan segala upaya penggusuran karena dianggap sangat merugikan masyarakat adat semangus. Kecuali mereka diberikan lahan baru, maka penggusuran tersebut bisa dilakukan. Ada sekitar 1.200 orang yang terkena dampak dari penggusuran tersebut.


SLPP Sumatera Selatan / Aman Sumatera Selatan

LAMPIRAN

--Tidak Ada Lampiran--