DATA DETIL
Diusir dari Tanah Adat Masyarakat Hukum Adat Talonang Terhempas Rezim Konsesi Perkebunan

 NUSA TENGGARA BARAT, KAB. SUMBAWA BARAT

Nomor Kejadian :  22/08/2017
Waktu Kejadian :  11-09-2014
Konflik :  Perkebunan Kelapa Sawit
Status Konflik :  Dalam Proses
Sektor :  Perkebunan
Sektor Lain  :  Pertambangan
Luas  :  0,00 Ha
Dampak Masyarakat  :  327 Jiwa
Confidentiality  :  Public

KETERLIBATAN

  • Menteri Kehutanan
  • Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi
  • Gubernur NTB
  • Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat
  • Kepala Satuan Brigade Mobil Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat
  • Bupati Sumbawa Barat
  • Kepala Dinas Kehutanan, Perkebunan dan Pertanian Kabupaten Sumbawa Barat
  • PT. Pulau Sumbawa Agra
  • PT Newmont Nusa Tenggara
  • Perkebunan Tanaman Sisal (HEAW-SP)
  • Masyarakat Adat Talonang

KONTEN

tepatnya Kamis tanggal 11 September 2014, Jamaludin Amin
sebagai Kepala Adat Talonang menerima surat undangan dari Kepala
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), tentang
pemanfaatan “tanah negara” di Blok Batu Nampar Desa Talonang.
Undangan soal pemanfaatan tanah tersebut, akan diselenggarakan di
kantor kecamatan besok hari Jumat, tanggal 12 September 2014 pukul
09.00 WITA. Jumat 12 September 2014, Jamaludin Amin,
bersama-sama dengan kepala desa, Ketua Badan Pemusyawaratan
Daerah (BPD), dan masyarakat lainnya berangkat menuju ke kantor
kecamatan. Masyarakat dan Pak Camat merasa kebingungan, kenapa justru tidak
ada seorang pun yang muncul di kantor kecamatan. Akhirnya, Camat
Sekongkang mencoba mengkonfirmasi ke pihak BAPPEDA. Pak Camat sangat geram. Ia merasa dibohongi karena melalui
undangan tersebut telah ditentukan kantor kecamatan sebagai lokasi
pertemuan, tetapi para pihak pengundang justru yang tidak datang. Pak
Camat sangat jengkel, terlebih Bapakak Jamaluddin beserta bapakbapak
lainnya yang hadir di kantor kecamatan. “Kami geram dengan
sikap Sekda dan timnya sehingga langsung kami kejar tim tersebut ke
Talonang,” tutur Bapak Rusdi.
Pak Rusdi yang memilih untuk mengejar rombongan Kepala Bappeda itu
akhirnya tiba di Talonang jam 12 lewat, disaat orang-orang sedang
mengerjakan sholat Jumat. Nampak rombongan Sekda Sumbawa Barat
pun berada di Masjid As-syukur Desa Talonang, Kecamatan Sekongkang
itu. “Kami pun tidak sempat sholat Jum’at,” lanjut Pak Rusdi.
Setelah shalat Jum’at, kemudian rombongan Sekda menuturkan
pengumuman kepada masyarakat perihal Tanah Batu Nampar. Undangan untuk para tetua adat Talonang dari pemerintah daerah
merupakan siasat palsu yang dipakai penguasa untuk menipu rakyatnya.
Para tetua adat diundang untuk bermusyawarah, tetapi pihak penguasa
memanfaatkan ketidakhadiran para tetua adat untuk mengintimidasi
Masyarakat Talonang melalui pengumuman, bahwa tanah di Batu
Nampar adalah tanah negara. Sebuah undangan kebohongan yang biasa
digunakan oleh penguasa menakut-nakuti serta mengintimidasi
masyarakat, kemudian mengusir mereka dari tanahnya. Mengusir untuk
kepentingan sebuah konsesi perkebunan


INKUIRI NASIONAL KOMNAS HAM 2015

LAMPIRAN

--Tidak Ada Lampiran--