DATA KONFLIK

No

Tahun

Judul

Klip

Konflik

Sektor

 

1 2010 Intervensi Perusahaan Sawit dalam Kehidupan Masyarakat Adat Muara Tae Masyarakat adat Muara Tae yang mendapatkan penghargaan dari Badan PBB urusan pembangunan UNDP sebagai upaya menjaga hutan sedang dihadapkan konflik hutan adatnya. Konflik yang terjadi sejak tahun 2010 merupakan ekspansi perusahaan PT. Borneo Surya Mining Jaya dengan perkebunan sawitnya.
Perkebunan Kelapa Sawit
Perkebunan
2 2008 Terancamnya Masyarakat Adat Muara Tae akibat Buldozer di Tanah Adat Petrus Asuy, salah satu tokoh masyarakat di Muara Tae mengatakan, “Hutan dan kebun kami habis, hubungan keluarga, kesepakatan dan persatuan pun terpecah-belah. Kini warga Dayak telah bersitegang dan diadu-domba satu sama lain [oleh perusahaan PT. Munte Waniq Jaya Perkasa (PT MWJP)]."
Perkebunan Kelapa Sawit
Perkebunan
3 1975 Konflik antara PT KEM dan Penambang Pertambangan Rakyat (Tradisional) Daerah pertambangan emas PT Kelian Equatorial Mining (PT KEM) yang berada hulu Sungai Mahakam – yang jauh sebelum keberadaan PT KEM, merupakan daerah pertambangan rakyat (tradisional), tepatnya di sekitar anak Sungai Kelian merupakan daerah asli orang Dayak yang terdiri dari beberapa suku, yang salah satunya adala Suku Kayan. Pada sekitar tahun 1948, Suku Kayan menemukan emas di daerah hulu Sungai Kelian yang merupakan daerah yang tidak berpenghuni. Akan tetapi, secara teritorial adat, daerah tersebut merupalan daerah teritorial Suku Bahau. Suku Bahau sendiri bermukim di muara Sungai Kelian. Perkampungan atau pemukiman itu disebut Long Kelian. Terdapatnya kandungan emas di daerah tersebut telah diketahui sebelumnya, namun dianggap oleh orang-orang dari Suku Bahau sendiri tidak memiliki nilai secara ekonomis atau tidak penting. Sehingga orang Suku Bahau tidak pernah menambangnya atau memanfaatkannya.
Emas
Pertambangan
4 2012 Masyarakat Adat Dayak Benuaq Kampung Muara Tae Memperjuangkan Hutan Adat
Perkebunan Kelapa Sawit
Perkebunan
5 2014 Hutan Adat Kami dirampas, Warga Kami dikriminalisasi Komunitas Masyarakat Adat Dayak Benuaq Kampung Muara Tae Sejak serangan Brimob yang membabi buta pada 1999, ayah terpaksa membawa kami, keluarganya dan puluhan keluarga lainnya dari sembilan kampung meninggalkan perkampungannya masing-masing, dan menyebar masuk ke hutan. Kami ketakutan. Saya masih siswa SMP waktu itu. Tidak benar-benar paham, kenapa ayah diburu oleh Brimob dan Preman. Hutan yang tersisa benar-benar menjadi pelindung kami, ayah, ibu dan adik-adiku. Dua bulan saya tidak sekolah. Ibu tidak berani keluar dari hutan membeli garam di kampung kami sendiri. Brimob melakukan penyerangan karena masyarakat melakukan demonstrasi menuntut haknya yang dirampas PT London Sumatra Tbk. Akibatnya sembilan orang warga ditangkap dan dipenjara di Tenggarong. Termasuk Kakek Saya Pak Nyokoy, Paman saya Pak Tentah, Pak Goda, Pak Long dan Kakak saya Pak Yohanes Jentra, Pak Joa, Pak Dukung, Pak Sampong. Termasuk Pak Bugar (alm) disiksa dengan disulut rokok di wajahnya karena tidak bersedia mengatakan dimana tempat persembunyian warga yang sedang diburu saat ditanya Brimob. Lambat laun saya memahami apa yang terjadi di Muara Tae. Hutan dan tanah kami yang kaya ini membuat tamu-tamu yang tak diundang itu berdatangan. Sebutkan perusahaan apa saja sejak 1970. Akan tetapi kedatangan investasi, masuknya perusahaan, masuknya para pendatang ini justru membuat kami makin tersudut.
Perkebunan Kelapa Sawit
Perkebunan
Displaying : 1 of 5 entries, Rows/page: